Surat An-Nisa Ayat 53
Surat ke-4
An-Nisa
Ayat 53اَمْ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّنَ الْمُلْكِ فَاِذًا لَّا يُؤْتُوْنَ النَّاسَ نَقِيْرًاۙ
Am lahum naṣībum minal-mulki fa iżal lā yu'tūnan-nāsa naqīrā(n).
Ataukah ada bagi mereka bahagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikitpun (kebajikan) kepada manusia.
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI
Pada ayat-ayat sebelumnya Allah menjelaskan bagaimana kaum Yahudi dengan kesombongan mereka telah berbuat durhaka, maka pada ayat ini Allah menanyakan dasar apa yang mereka punya untuk melegalkan perbuatan demikian. Sebenarnya mereka tidak mempunyai dasar apa pun. Agar terbuka kedok mereka, ayat ini mempertanyakannya._ Ataukah mereka mempunyai bagian dari kerajaan_ dan kekuasaan. Jelas ini tidak ada. Bahkan meskipun _mereka mempunyainya, mereka tidak akan memberikan sedikit pun_ kebajikan _kepada manusia_, bukan saja karena tidak memilikinya, tetapi mereka juga sangat kikir.
_ _
Tafsir Ibnu Katsir
<b>Allah Swt. telah berfirman: </b>
<i>Ataukah ada bagi mereka bagian dari kerajaan?</i>
Istifham atau kata tanya dalam ayat ini menunjukkan makna istifham ingkari (kata tanya yang negatif), yakni mereka tidak memperoleh bagian dari kerajaan itu.
Kemudian Allah Swt. menyebutkan sifat mereka yang kikir melalui firman berikutnya, yaitu:
<i>Kendatipun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun (kebajikan) kepada manusia.</i>
Karena sekalipun mereka memperoleh bagian dari kerajaan itu dan kekuasaan, niscaya mereka tidak akan memberikan suatu kebajikan pun kepada orang lain, terlebih lagi kepada Nabi Muhammad Saw. Yang dimaksud dengan naqir ialah secuil tembaga yang ada di dalam sebuah biji, menurut pendapat Ibnu Abbas dan kebanyakan ulama. Ayat ini semakna dengan ayat Lain, yaitu firman-Nya:
Katakanlah, "Seandainya kalian menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kalian tahan, karena takut membelanjakannya." (Al Israa':100)
Dengan kata lain, karena kalian merasa takut perbendaharaan yang ada di tangan kalian itu akan habis, padahal perbendaharaan rahmat Allah itu tidak ada habis-habisnya. Sesungguhnya sikap demikian itu hanyalah terdorong oleh sikap kikir dan sikap pelit kalian sendiri. Karena itulah dalam firman selanjutnya disebutkan:
Dan adalah manusia itu sangat kikir. (Al Israa':100)
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, Tafsir Ibnu Katsir.
Posting Komentar