Surat Al-Kahf Ayat 88
Surat ke-18
Al-Kahf
Ayat 88وَاَمَّا مَنْ اٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهٗ جَزَاۤءً ۨالْحُسْنٰىۚ وَسَنَقُوْلُ لَهٗ مِنْ اَمْرِنَا يُسْرًا ۗ
Wa ammā man āmana wa ‘amila ṣāliḥan fa lahū jazā'anil-ḥusnā, wa sanaqūlu lahū min amrinā yusrā(n).
Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami".
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI
_Adapun orang yang beriman dan_ membuktikan keimanannya dengan_ mengerjakan kebajikan, maka dia_ akan _mendapat_ pahala _yang terbaik sebagai balasan_ atas apa yang telah diperbuatnya, _dan_ selanjutnya _akan kami sampaikan kepadanya_, yaitu orang-orang beriman,_ perintah kami yang mudah-mudah_ dan tidak memberatkannya.”
Tafsir Ibnu Katsir
<b>Firman Allah Swt.:</b>
<i>Adapun orang-orang yang beriman.</i>
Yakni mau mengikuti apa yang kami serukan kepadanya, yaitu mau menyembah Allah semata, tiada sekutu baginya.
<i>...maka baginya pahala yang terbaik</i>
kelak di hari akhirat di sisi Allah Swt.
<i>...dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami."</i>
Mujahid mengatakan bahwa ma'rufan artinya perintah yang baik.
Tafsir as-Sa'di
"Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulqarnain.
Katakanlah, 'Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya.' Sesungguhnya Kami telah memberi
kekuasaan kepada-nya di (muka) bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya
jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, maka dia pun menempuh suatu
jalan. Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, maka dia melihat matahari
terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami
berkata, 'Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka.'
Dzulqarnain berkata, 'Adapun orang yang berbuat aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya,
kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia mengazab-nya dengan azab yang tidak ada
taranya. Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik
sebagai balasan, dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah
dari perintah-perintah Kami'." (Al-Kahfi: 83-88).
(83) Orang-orang ahli Kitab atau kaum musyrikin bertanya kepada
Rasulullah tentang kisah Dzulqarnain. Maka Allah meme-rintahkan beliau untuk berkata, ﴾
سَأَتۡلُواْ عَلَيۡكُم مِّنۡهُ ذِكۡرًا 83 ﴿ "Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya." Di
dalam kisah ini, terdapat berita yang bermanfaat dan arah pembicaraan yang menakjubkan.
Maksudnya, aku akan menceritakan kepada kalian tentang sifat-sifatnya yang bisa menjadi bahan
perenungan dan pelajaran. Ada-pun keadaan-keadaan selain itu, maka beliau tidak membacakan (ceritanya) kepada mereka.
(84-85) ﴾ إِنَّا مَكَّنَّا لَهُۥ فِي ٱلۡأَرۡضِ ﴿ "Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) bumi," maksudnya, Allah menjadikan-nya raja dan memudahkannya untuk menerobos penjuru-penjuru bumi dan memudahkan tunduknya mereka kepadanya. ﴾
وَءَاتَيۡنَٰهُ مِن كُلِّ شَيۡءٖ سَبَبٗا 84 ﴿ "Dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu," maksudnya Allah memberinya sebab
kausalitas yang dapat mengantarkan dirinya kepada apa yang telah dia capai, untuk dipergunakan
melumpuhkan negeri-negeri dan memudahkannya masuk ke wilayah-wilayah yang jauh, dan dia telah
beramal dengan sebab-sebab yang Allah berikan kepadanya. Maknanya, dia mem-pergunakan
fasilitas-fasilitas tersebut sebagaimana mestinya. Tidak setiap orang yang mempunyai sebab
kausalitas mampu menjalan-kannya, dan tidak setiap orang sanggup memperoleh sebab kau-salitas.
Bila sudah terpadukan antara kesanggupan memperoleh sebab kausalitas yang hakiki dan
menjalankannya, niscaya terwu-judlah tujuan. Bila keduanya tidak ada atau salah satunya (tidak terpenuhi), maka tujuannya tidak terealisasikan. Sebab kausalitas
yang Allah berikan kepadanya, tidak diberitahukan oleh Allah dan RasulNya kepada kita, dan
riwayat-riwayat pun tidak banyak menyinggungnya dalam bentuk yang mengarah kepada keyakinan.
Oleh karena itu, tidak ada kelonggaran yang bisa kita lakukan selain diam saja tentang persoalan
tersebut, tidak menoleh kepada riwayat-riwayat israiliyyat yang dikutip oleh para pembawa
riwayat dan kisah semacamnya. Tetapi, kita sudah mengetahui secara global bahwa ia adalah sebab
kausalitas yang kuat, variatif, bersifat inter-nal atau eksternal. Dengan itu, ia mempunyai
pasukan besar yang berjumlah banyak dan bersenjatakan memadai serta penuh keter-aturan. Dengan
itu pula, dia mampu menumbangkan musuh-musuh, memudahkan perjalanan menuju belahan bumi bagian
timur dan barat serta penjuru-penjuru dunia.
(86) Maka Allah memberikan kepadanya sesuatu untuk sampai ke ﴾ مَغۡرِبَ
ٱلشَّمۡسِ ﴿ "tempat terbenamnya matahari," hingga melihat matahari dalam jangkauan pandang mata, seolah-olah ia ﴾
تَغۡرُبُ فِي عَيۡنٍ حَمِئَةٖ ﴿ "terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam," maksudnya yang berwarna hitam. Ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi orang yang antara tempatnya dan garis ufuk matahari bagian barat ter-pisahkan oleh air. Menyaksikannya terbenam di atas air, meskipun matahari itu sebenarnya sangat tinggi ﴾
وَوَجَدَ عِندَهَا ﴿ "dan dia mendapati di situ," yaitu di tempat terbenamnya matahari ﴾
قَوۡمٗاۖ قُلۡنَا يَٰذَا ٱلۡقَرۡنَيۡنِ إِمَّآ أَن تُعَذِّبَ وَإِمَّآ أَن تَتَّخِذَ فِيهِمۡ
حُسۡنٗا 86 ﴿ "segolongan umat. Kami berkata, 'Hai Dzulqarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh
berbuat kebaikan terhadap mereka'," maksudnya, (kamu boleh berbuat apa saja) baik dengan cara menyik-sa mereka dengan
pembunuhan, pukulan, penahanan, atau cara lainnya, dan boleh juga dengan cara berbuat baik
kepada mereka. Jadi, ia dihadapkan pada dua pilihan. Karena, tampaknya mereka itu orang-orang
kafir, orang-orang fasik atau terdapat gejala se-macam itu pada mereka. Sebab, bila mereka itu
kaum Mukminin yang tidak berbuat kefasikan, niscaya tidak diperbolehkan baginya untuk menyiksa
mereka.
(87) Dzulqarnain mempunyai strategi syar'i yang menjadi-kannya pantas
menerima sanjungan dan pujian, karena curahan taufik Allah kepadanya. Ia berkata, "Aku akan
membagi menjadi dua bagian, ﴾ أَمَّا مَن ظَلَمَ ﴿ "adapun orang yang berbuat aniaya," dengan kekufuran, ﴾
فَسَوۡفَ نُعَذِّبُهُۥ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِۦ فَيُعَذِّبُهُۥ عَذَابٗا نُّكۡرٗا 87 ﴿ "maka
kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia dikembalikan kepada Rabbnya, lalu Dia meng-azabnya
dengan azab yang tidak ada taranya," maksudnya, dia ditimpa dua hukuman, hukuman dunia dan
hukuman akhirat.
(88) ﴾ وَأَمَّا مَنۡ ءَامَنَ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُۥ جَزَآءً
ٱلۡحُسۡنَىٰۖ ﴿ "Adapun orang-orang yang beriman dan beramal shalih, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan," maksudnya, dia mendapatkan surga dan kondisi yang baik di sisi Allah sebagai balasan pada Hari Kiamat ﴾
وَسَنَقُولُ لَهُۥ مِنۡ أَمۡرِنَا يُسۡرٗا 88 ﴿ "dan akan Kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah Kami," maksudnya Kami akan
mencurahkan ke-baikan kepadanya, berlembut-lembut dengannya dalam ucapan dan kami memudahkan
muamalah baginya. Ini menunjukkan status-nya dari kalangan raja yang shalih [dan]
wali yang adil lagi berilmu, yang mana dia sejalan dengan keridhaan Allah dalam menyikapi setiap
orang sesuai dengan kondisinya.
Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir as-Sa'di.
Posting Komentar