Surat Al-Hijr Ayat 75

Surat ke-15

Al-Hijr

Ayat 75

اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّلْمُتَوَسِّمِيْنَۙ

Inna fī żālika la'āyātil lil-mutawassimīn(a).

Artinya

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Tafsir Ayat
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI

_Sungguh, pada yang demikian itu_, yaitu berita-berita dan kisah-kisah yang Allah sampaikan, _benar-benar terdapat tanda-tanda_ kebesaran, keagungan, dan kekuasaan Allah _bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda_ yang diperlihatkan dan dihamparkan di alam semesta ini.

Tafsir Ibnu Katsir

<b>Firman Allah Swt.:</b>

<i>Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang-orang yang memper­hatikan tanda-tanda.</i>

Yakni sesungguhnya bekas-bekas azab masih tampak pada negeri-negeri itu bagi orang yang memperhatikannya dan memandangnya dengan pandangan mata dan hatinya.

Seperti yang dikatakan oleh Mujahid sehubungan dengan makna firman-Nya:

<i>...bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.</i>aitu bagi orang-orang yang memandangnya dengan pandangan mata dan hatinya.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Ad-Dahhak, bahwa makna yang dimaksud ialah bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda.

Qatadah mengatakan bahwa mutawassimin artinya orang-orang yang mengambil pelajaran.

Malik mengatakan dari sebagian ulama Madinah, bahwa mutawassimin artinya orang-orang yang merenungkannya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Arafah, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Kasir Al-Abdi, dari Amr ibnu Qais, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id secara marfu' yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Takutlah kalian kepada firasat orang mukmin, karena sesungguh­nya dia melihat dengan nur (cahaya) Allah. Kemudian Nabi Saw. membacakan firman-Nya:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang memperhatikannya.

Imam Turmuzi dan Ibnu Jarir meriwayatkannya melalui hadis Amr ibnu Qais Al-Mala-i, dari Atiyyah, dari Abu Sa'id. Imam Turmuzi mengatakan, "Kami tidak mengenal hadis ini kecuali hanya melalui jalur ini."

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepadaku Ahmad ibnu Muhammad AtTusi, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Al-Furat ibnus Sa-ib, telah menceritakan kepada kami Maimun ibnu Mahran, dari Ibnu Umar yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Takutlah kepada firasat orang mukmin, karena sesungguhnya orang mukmin itu memandang dengan nur (cahaya) Allah.

Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepadaku Abu Syurahbil Al-Himsi, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Salamah, telah menceritakan kepada kami Al-Muammal ibnu Sa!id ibnu Yusuf Ar-Rahbi, telah menceritakan kepada kami Abul Ma'la Asad ibnu Wada'ah At-Ta-i, telah menceritakan kepada kami Wahb ibnu Munabbih, dariTawus ibnu Kaisan, dari Sauban yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Waspadalah kepada firasat orang mukmin, karena sesungguhnya dia memandang dengan nur Allah dan taufik-Nya.

Ibnu Jarir mengatakan pula, telah menceritakan kepada kami Abdul A'la ibnu Wasil, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Muhammad Al-Jurmi, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahid ibnu Wasil, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr Al-Muzliq, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang mengetahui hal ihwal orang lain melalui firasatnya.

Al-Hafiz Abu Bakar Al-Bazzar mengatakan dalam riwayatnya, bahwa telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Bahr, telah menceritakan kepada kami Sa'id ibnu Muhammad Al-Jurmi, telah menceritakan kepada kami Abu Bisyr yang dikenal dengan nama ibnul Muzliq, yang menurut Al-Bazzar dinilai siqah, dari Sabit, dari Anas yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda: Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang dapat mengenal (mengetahui) orang lain melalui firasat(nya).

Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, Tafsir Ibnu Katsir.

Oleh: Wasatiah

Ilmu adalah obat paling manjur untuk menyembuhkan kebodohan. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

Posting Komentar

Posting Komentar