Surat Al-Baqarah Ayat 139

Surat ke-2

Al-Baqarah

Ayat 139

قُلْ اَتُحَاۤجُّوْنَنَا فِى اللّٰهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْۚ وَلَنَآ اَعْمَالُنَا وَلَكُمْ اَعْمَالُكُمْۚ وَنَحْنُ لَهٗ مُخْلِصُوْنَ ۙ

Qul atuḥājjūnanā fillāhi wa huwa rabbunā wa rabbukum, wa lanā a‘mālunā wa lakum a‘mālukum, wa naḥnu lahū mukhliṣūn(a).

Artinya

Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,

Tafsir Ayat
Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI

Ayat ini berkaitan dengan ayat 135 yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk mengatakan kepada mereka bahwa kami hanya mengikuti agama Nabi Ibrahim. Kini, pada ayat ini, Nabi Muhammad diperintahkan untuk mendebat mereka. _Katakanlah, "Apakah kamu hendak berdebat dengan kami tentang_ keesaan dan kemahasempurnaan _Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu._ Kita sama-sama menyembah-Nya dan kita pun tidak bisa menghindar dari ketetapanNya. Kalau begitu, _bagi kami amalan kami_ yang akan kami pertanggungjawabkan, dan demikian pula _bagi kamu amalan kamu_ yang akan kamu pertanggungjawab kan. _Dan hanya kepada-Nya kami dengan tulus mengabdikan diri_ tanpa mempersekutukan-Nya, sedangkan kamu mempersekutukan-Nya dengan Nabi Isa dan para nabi yang lain. "

Tafsir Ibnu Katsir

Melalui ayat ini Allah Swt. memberikan petunjuk kepada Nabi-Nya bagaimana cara menangkis hujah orang-orang musyrik. Untuk itu Allah Swt. berfirman:

<i>Katakanlah, "Apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang Allah!"</i>

Maksudnya, apakah kalian memperdebatkan dengan kami tentang mengesakan Allah, ikhlas kepada-Nya, taat dan mengikuti semua perintah-Nya serta meninggalkan larangan-larangan-Nya?

<i>padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kalian.</i>

Yakni Dialah yang mengatur kami dan juga kalian, Dia pula yang berhak di sembah secara ikhlas sebagai Tuhan yang tiada sekutu bagi-Nya.

<i>Bagi kami amalan kami dan bagi kalian amalan kalian.</i>

Dengan kata lain, kami berlepas diri dari kalian dan apa yang kalian sembah, dan kalian berlepas diri dari kami. Makna ayat ini sama dengan apa yang terdapat di dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah, "Bagiku pekerjaanku, dan bagi kalian pekerjaan kalian. Kalian berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan, dan aku pun berlepas diri terhadap apa yang kalian kerjakan." (Yunus:41)

Kemudian jika mereka mendebat kamu, maka katakanlah, "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku." (Ali Imran:20), hingga akhir ayat.

Allah Swt. menceritakan apa yang dialami oleh Nabi Ibrahim a.s. melalui firman-Nya:

Dan dia dibantah oleh kaumnya. Dia berkata, "Apakah kalian hendak membantahku tentang Allah! (Al An'am:80), hingga akhir ayat.

Allah Swt. telah berfirman pula:

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah).(Al Baqarah:258), hingga akhir ayat.

Di dalam ayat berikut ini Allah Swt berfirman:

<i>Bagi kami amalan kami, dan bagi kalian amalan kalian, dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati. </i>

Yakni ikhlas dalam ibadah dan menghadap kepada-Nya.

Tafsir as-Sa'di

"Katakanlah, 'Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan
kami dan Tuhan kamu, bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami
mengikhlaskan hati'." (Al-Baqarah: 139).
(139) Kata اَلْمَحَاجَّةُ bermakna perdebatan antara dua orang atau
lebih dalam masalah-masalah khilafiyah hingga setiap pihak dari kedua belah pihak mengusahakan
untuk menguatkan argumen-argumen mereka dan menjatuhkan argumen-argumen lawannya, setiap pihak
dari mereka berusaha untuk menegakkan argumen dalam hal tersebut. Yang diharapkan dalam
perdebatan itu adalah seharusnya berjalan dengan cara yang paling baik, dengan jalan yang paling
dekat untuk mengembalikan seseorang yang tersesat kepada kebenaran, dan menegakkan hujjah atas
orang-orang yang keras kepala, menjelaskan kebenaran dan menerangkan kebatilan. Jika keluar dari
prinsip-prinsip di atas, maka perdebatan itu men-jadi sebuah perdebatan kusir dan pertengkaran
mulut yang tidak ada gunanya, dan dapat menimbulkan keburukan. Para ahli Kitab mengaku bahwa
mereka adalah yang paling berhak kepada Allah daripada kaum Muslimin. Ini hanyalah sebatas
pengakuan yang butuh dalil dan keterangan yang kuat.
Apabila Tuhan bagi semuanya hanya satu dan bukan Tuhan kalian saja, dan setiap dari kita dan
kalian memiliki amal perbuatan, hingga kalian[16] dan kami sama
sederajat dalam hal itu, dengan demikian hal itu tidaklah mengharuskan adanya salah satu dari
kedua kelompok itu lebih berhak kepada Allah dari lainnya, karena pembedaan dengan adanya
keikutsertaan dalam suatu hal tanpa ada perbedaan yang mempengaruhi adalah sebuah pengakuan yang
kosong dan batil, dan memisahkan antara kedua hal yang semisal adalah suatu kecongkakan yang
jelas sekali. Hanya saja dapat terjadi pengutamaan yang didasarkan dengan keikhlasan dalam
amalan-amalan shalih hanya untuk Allah semata. Dan kon-disi yang seperti itu hanyalah sifat kaum
Mukminin saja, maka pas-tilah bahwa merekalah yang paling berhak kepada Allah daripada
selainnya, karena keikhlasan adalah jalan menuju keselamatan.
Inilah perbedaan antara wali-wali ar-Rahman dan wali-wali setan dalam sifat-sifat yang hakiki
yang diterima oleh orang-orang yang berakal dan tidak diperdebatkan kecuali oleh orang yang
sombong dan bodoh. Ayat ini menunjukkan sebuah bimbingan yang baik dalam perdebatan, dan
bahwasanya segala perkara itu harus berdasar atas asas penggabungan antara hal-hal yang
semi-sal, dan pemisahan antara hal-hal yang berbeda.

Sumber: Tafsir Ringkas Kementerian Agama RI, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir as-Sa'di.

Oleh: Wasatiah

Ilmu adalah obat paling manjur untuk menyembuhkan kebodohan. Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.

Posting Komentar

Posting Komentar